Sejarah
04 May 2021 827 Sejarah Ahlul Quro


Berdirinya Madrasah Tsanawiyah Ahlul Quro Rantau Harapan tidak lepas dari sejarah berkembangnya Madrasah Ibtidaiyah Ahlul Quro yang di dirikan pada 25 Mei 2011 Oleh Warga Masyarakat Desa Rantau Harapan Khususnya Dusun I Desa Rantau Harapan, hal ini dikarenakan sejak dari tahun 1978 sampai dengan tahun 2010, Masyarakat Desa Rantau Harapan tidak mempunyai Gedung Sekolah, baik Swasta maupun sekolah Negeri, pada tahun 1978 sampai dengan tahun 1993 anak anak usia Sekolah Dasar ( SD) harus berjalan kaki ke Dusun III Desa Rantau Harapan ( SDN Kemiri), perjalanan kurang lebih 4 KM dan harus dilalui dengan berjalan kaki menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam perjalanan. Kondisi ini diperparah lagi kalau musim banjir, maka anak anak Dusun I Desa Rantau Harapan ini harus menempuh Sekolah dengan memakai Perahu untuk dapat sampai ke SDN kemiri tersebut.
Baru kemudian pada tahun 1994 sampai 2010 warga masyarakat Dusun I Desa Rantau Harapan berinisiatif untuk menyekolahkan anaknya ke SDN 3 Lebung, dengan pertimbangan akses menuju Desa Lebung lebih muda dibandingkan di SDN Kemiri, di SDN 3 Lebung anak anak belajar, walaupun harus menempu perjalanan 1 jam dari Desa Rantau Harapan Dusun I ( Limbungan) dan itu harus dilalui pulang pergi (PP). jarak tempuh ke SDN 3 Lebung ini 3,5 KM.
Jaunya jarak tempuh menuju ke lokasi sekolah membuat orang tua/ wali merasakan keresahan belum lagi kalau musim hujan anak anak tentu tidak bisa sekolah karena jalan becek dan licin, oleh karenanya Masyarakat melalui pemerintah sudah beberapa kali mengajukan permohonan unit sekolah namun belum ada realisasi dari pemerintah, maka pada tahun 2011, atas Prakarsa warga Desa Rantau Harapan, dipelopori oleh Pak Hodari, S.Pd ( Kebetulan Beliau juga PNS di SDN 3 Desa Lebung), maka diadakan rapat Desa yang di Hadiri oleh Kepala Desa Rantau Harapan periode 2007 -2013 (Bpk. Jum’at Mustopa) dan dihadiri juga ( Bpk. Efendi Arifin, S.Ag ) Kepala MTs. Miftahul Ulum selaku Keynote Speaker yang memberikan arahan kepada Warga masyarakat mengenai keberadaan Madrasah Khususnya Madrasah Ibtidaiyah di bawah naungan Kementerian Agama, karena pada waktu itu sangat urgent.) dan masyarakat belum memahami kesetaraan MI dan SD, maka di sepakati didirikan madrasah Ibtidaiyah dibawah naungan kementerian Agama dengan Pengurus Bpk Hamim Rozal ( Sekretaris Yayasan) dan Bapak Usman Yati ( Bendahara Yayasan periode 2011-2016). Seperti yang disampaikan oleh Mantan Kades Rantau Harapan Periode 2009 – 2015 yakni Bapak Jum’at Mustofa.
“Sejarah berdirinya madrasah Tsanawiyah Ahlul Quro Rantau Harapan ini tidak terlepas dari peran masyarakat yang pada waktu itu harus menyekolahkan anaknya ke Sekolah Dasar Kemiri, sejak tahun 1978 sampai tahun 1993, baru kemudian anak anak ini dari SDN kemiri Pindah ke SDN 3 Lebung, dengan pertimbangan akses menuju Desa ini lebih muda jika dibandingkan akses menuju SDN Kemiri, di SDN 3 Lebung anak anak Dusun 1 Desa Rantau Harapan ini belajar mulai dari tahun 1993 sampai 2010. Pada awal tahun pelajaran 2011 Saudara Hodari, selaku Guru SDN 3 Desa Lebung dan warga Masyarakat mengusulkan kepada Saya selaku Kepala Desa untuk membuat Sekolah Filial, ( Kelas Jauh SDN 3 Lebung), namun terkendala lahan yang tidak memenuhi persyaratan yakni minimal ¼ Hektar, sedangkan tanah wakaf kita hanya berukuran 17,5 x 25 Meter. Oleh sebab itu diusulkan didirikan sekolah swasta dibawah naungan kemenag.
Pokok pokok kesepatakan antara lain, disepakati akan didirikan madrasah di Desa Rantau Harapan, dengan cara gotong royong yakni setiap Kepala Keluarga (KK) menyumbang minimal Rp. 100.000 ( Seratus Ribu Rupiah) dan bersedia menyumbangkan tenaga dalam pembangunan tempat belajar anak anak khususnya di masyarakat Desa Rantau Harapan. Yang akan didirikan dilahan wakaf atas Nama ( Alm. Baina) diwakafkan Ahli Waris kepada Desa dan oleh Desa dengan persetujuan masyarakat di pergunakan untuk lahan pembangunan Madrasah Ahlul Quro, tanah tersebut berukuran 17,5 x 25 meter dan tempat belajar dibangun dengan material seadanya, berupa papan rempesan dan atap nipah. Sebanyak 2 lokal berukuran 10X5 M. satu lokal digunakan untuk ruang kelas satu lokal digunakan untuk ruang kantor, untuk buku pelajaran di suplay dari SDN 3 Desa Lebung atas usul dari Pak Hodari ( Kepala Madrasah Tsanawiyah Ahlul Quro sekarang). Untuk menopang operasional pendidikan, setiap orang tua siswa membantu biaya infak sukarela semampunya mulai dari Rp. 25.000 ( Dua Puluh Lima Ribu ) sampai Rp.100.000 ( Seratus Ribu ) perbulan, untuk mencukupi biaya operasional dan transport guru yang mengajar.
seiring berjalan waktu tempat belajar ini mulai bocor dan siswa yang belajar mulai sering mengeluh bukunya basah karena tetesan air hujan yang mulai tak mampu di tangkal oleh atap nipah, sedangkan kegiatan pembelajaran sudah mulai berlangsung dengan baik.
Melihat keadaan ini pihak pengurus madrasah mengusulkan kepada Kepala Desa untuk mengajak Masyarakat untuk membangun gedung yang permanen dan dibangun dilahan yang luas, berdasarkan hasil rapat masyarakat dengan melihat kondisi tanah yang tidak memungkinkan untuk perkembangan madrasah maka harus dibangun dilahan yang baru yang cukup luas dan dibangun permanen, maka berdasarkan kesepakatan Gedung baru tersebut akan dibangun di tanah infak atas nama Sopian Bin Sabtu berukuran 50 M x 50 Meter dan akan dibangun dengan bantuan pemerintah Desa melalui anggaran PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) Mandiri Perdesaan Tahun Angaran 2012 sebesar Rp. 208.950.000 ( Dua Ratus Delapan Juta Sembilan Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah), dibangun seluas 20 M x 9 Meter terdiri dari 2 Ruang Belajar dan satu Ruang Kantor.
“ pada tahun 2012 Masyarakat meminta agar Sekolah Swasta yang diberi Nama Ahlul Quro ini diperbaiki dengan bantuan dari Pemerintah, pada waktu itu Program PNPM sedang berlangsung jadi setiap Desa bisa mengusulkan sesuai kebutuhan Masyarakat, saya waktu itu Kepala Dusun 1 Desa Rantau Harapan, mengusulkan kepada Kades untuk di bangun Gedung Permanen dengan anggaran dari PNPM Mandiri tahun 2012 Kepala Desa menyetujuinya dengan syarat tanah yang akan dibangun gedung tersebut harus lebih luas, berdasarkan hasil rapat masyarakat dengan melihat kondisi tanah yang tidak memungkinkan untuk perkembangan madrasah maka harus dibangun dilahan yang baru yang cukup luas dan dibangun permanen, maka berdasarkan kesepakatan Gedung baru tersebut akan dibangun di tanah infak atas nama Sopian Bin Sabtu berukuran 50 M x 50 Meter dan akan dibangun dengan bantuan pemerintah Desa melalui anggaran PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) Mandiri Perdesaan Tahun Angaran 2012 sebesar Rp. 208.950.000 ( Dua Ratus Delapan Juta Sembilan Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah), dibangun seluas 20 M x 9 Meter terdiri dari 2 Ruang Belajar dan satu Ruang Kantor.
Seiring berjalannya waktu perkembangan madrasah ini semakin pesat. Tahun 2013 dibantu pemerintah satu ruang belajar dan dibangun 3 lokal ruang belajar swadaya masyarakat. Pembangunan Madrasah ini banyak di suport oleh masyarakat mulai dari pembersihan lahan, sampai pemagaran Madrasah dibantu oleh masyarakat sekitar, pada tahun 2014 masyarakat mulai resah karena keadaan hasil pertanian yang tidak menentu apalagi harga karet turun, anak anak yang tamat Madrasah dan ini terancam tidak bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, sebagian besar wali siswa yang akan menamatkan anaknya di jenjang Madrasah Ibtidaiyah Ahlul Quro menghadap ke pengurus Yayasan agar didirikan Madrasah Tsanawiyah untuk menyelamatkan keberlangsungan pendidikan anak anak di musim paceklik. Adm